Berita sering selesai lebih cepat daripada persoalannya. Pernyataan sudah dibacakan, angka sudah dikutip, kamera sudah pergi. Namun tanah belum jelas statusnya, proyek belum terang manfaatnya, dan orang yang terkena akibatnya masih menunggu jawaban. Satirasa.id ingin tinggal sedikit lebih lama di sana: pada bagian cerita yang belum selesai.
Terbit dari Malili, Sulawesi Selatan, kami mengikuti peristiwa di Luwu Raya dan Sulawesi Selatan, serta keputusan nasional yang akibatnya terasa sampai ke daerah. Perhatian kami tertuju pada hukum, kekuasaan, lingkungan, ekonomi, dan kehidupan sehari-hari tempat sebuah kebijakan akhirnya benar-benar terjadi.
Kami membaca pernyataan, dokumen, dan laporan media lain dengan pertanyaan yang sama: dari mana angka itu datang, bagian mana yang sudah dapat dipastikan, dan siapa yang belum didengar? Jika sebuah tulisan bertolak dari kerja media lain, kami menyebut sumbernya. Kami tidak mengaku menyaksikan peristiwa yang hanya kami ketahui dari laporan orang lain.
Satir dalam nama kami tidak memberi izin untuk mengarang. Ia memberi keberanian untuk bertanya ketika jawaban terdengar terlalu mudah. Rasa mengingatkan kami bahwa setiap nama dalam berita adalah manusia, bukan bahan untuk mengasah kalimat. Dugaan tetap kami sebut dugaan. Opini dan satir mendapat ruangnya sendiri. Iklan tidak menyamar sebagai berita.
Ketika kami keliru, pembaca berhak meminta koreksi dan hak jawab. Perbaikannya harus dapat ditemukan bersama berita yang dipersoalkan. Pembaca berhak mengetahui bukan hanya apa yang kami tulis, tetapi juga batas dari apa yang kami ketahui.
Satirasa.id diterbitkan oleh PT Satirasa Media Nusantara.
