BMKG: Kualitas Udara Sulsel Sedang sampai Tidak Sehat, Asap Kiriman dari Kalimantan, Papua, dan Maluku
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar mencatat kualitas udara di Sulawesi Selatan berada pada batas sedang hingga tidak sehat. Kondisi itu dipantau dari Stasiun Klimatologi Maros beberapa hari terakhir.
Prakirawan BMKG Asriani Idrus, Sabtu (3/10/2026), menjelaskan arah angin ikut menentukan. Kalau angin bertiup dari timur, udara bisa kembali bersih. Kalau angin berubah dari barat, partikel asap masuk ke Sulsel.
Artinya, status normal pada siang hingga sore bukan karena kebakaran padam, melainkan angin berganti haluan dan membawa partikel menjauh. Saat angin barat kembali pada dini hari hingga menjelang siang, asap ikut masuk.
Menurut Asriani, asap kiriman bisa berasal dari Kalimantan bagian selatan jika angin barat. Jika angin timur, asap dari Papua dan Maluku berpeluang masuk. Kalimantan disebut lebih dekat.
BMKG memantau prakiraan cuaca dan angin 24 jam sampai 72 jam ke depan. Peta pemantauan asap masih menunjukkan titik merah yang kuat, sehingga kualitas udara diperkirakan belum membaik beberapa hari ke depan. Titik merah itu tidak dirinci menjadi angka kualitas udara per kabupaten/kota.
Soal PM2.5, Asriani menyebut indikatornya “agak turun”. Angka pastinya tidak dijelaskan. Publik hanya memegang label “sedang hingga tidak sehat” tanpa tahu seberapa pekat udara harian.
Suhu udara di Makassar dan sekitarnya tercatat 30–35 derajat Celsius selama musim kemarau, disebut masih normal. Namun sumber tidak memuat rekomendasi pengurangan aktivitas luar ruang saat asap dari barat masuk.
Sumber
– https://makassar.antaranews.com/berita/639521/asap-karhutla-pengaruhi-kualitas-udara-di-sulsel






