EDISI DIGITAL satirasa.id
Satirasa

Yang dekat kami baca, yang janggal kami tanya.

Dari Pelengkap Bakmi, Sambal Simpati Lombok Kuning Tembus Ekspor Jepang dan Selandia Baru

Dari pelengkap bakmi, sambal racikan pasangan di Makassar kini menjadi komoditas ekspor. Menurut Kumparan, produk Simpati Lombok Kuning telah menembus pasar Jepang dan Selandia Baru.

Usaha ini berawal dari dapur rumah. Tingginya permintaan pelanggan membuka jalan bagi Ridwan dan Melyana meluncurkan lini bisnis sambal sekitar 2017 dengan merek Simpati Lombok Kuning. Sambal khas Makassar ini bercita rasa pedas dan asin, berwarna kuning alami dari perpaduan cabai, serta diproses higienis tanpa tambahan pewarna, pengawet, maupun MSG.

Ridwan dan Melyana menyadari mengembangkan usaha bukan hanya soal menjaga rasa dan memenuhi pesanan, tetapi juga bagaimana mengelola bisnis agar mampu bertahan dan tumbuh dalam jangka panjang. Melyana mengatakan perubahan paling besar setelah mengikuti pembinaan Bank Indonesia adalah pola pikir, dari semula berorientasi sebagai pedagang menjadi pengusaha. Ia dan suaminya mengikuti program UMKM Resilient, World Class, Agile, dan Knowledgeable (REWAKO) Ekspor pada 2024. Program yang dikelola Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan ini berjalan sejak 2022 dan pada 2026 memasuki angkatan kelima; total 215 UMKM telah masuk dalam ekosistem pembinaannya.

Sebelum pembinaan, Melyana mengaku fokus pada produksi dan penjualan. "Sebelumnya, pola pikir kami sederhana aja, membuat produk, dijual, lalu dapat untung," ujarnya. Melalui REWAKO, keduanya belajar menyusun perencanaan bisnis, mengelola keuangan, memanfaatkan media sosial untuk pemasaran, serta memisahkan keuangan pribadi dari keuangan usaha. Mereka juga mulai melihat usaha tidak hanya sebagai sumber pendapatan keluarga, tetapi juga kesempatan membuka lapangan kerja dan memberi peluang kepada orang lain untuk berkembang.

Perubahan itu membuat pengembangan bisnis lebih terarah. Kini Simpati Lombok Kuning memiliki 10 karyawan yang menangani produksi, penjualan, administrasi, dan pengelolaan usaha. Produksi ditopang mesin filling dari Bank Indonesia pada 2025. Melyana menyebut bantuan itu menggantikan proses pengisian manual sehingga produksi lebih efisien dan higienis.

Tantangan tetap datang dari fluktuasi harga cabai. Saat Katadata berkunjung ke dapur produksinya, Kamis (22/10), harga cabai rawit mencapai Rp75.000 per kilogram, jauh di atas harga normal Rp30.000-Rp32.000 per kilogram. Kenaikan itu membuat Melyana harus berhitung lebih cermat karena harga jual tidak bisa serta-merta dinaikkan.

Baca juga:

Sumber

– katadata.co.id/berita/nasional/6ae1667661c9e/dari-racikan…

– kumparan.com/kumparanbisnis/berawal-dari-pelengkap-bakmi-…

Share it :