Amerika Serikat melancarkan serangan ke Pulau Qeshm, Iran, di Selat Hormuz pada Senin menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat. Kepada CBS, mitra BBC di AS, para pejabat AS menyebut serangan itu terbatas dan defensif, sebagai respons atas tembakan Garda Revolusi Iran (IRGC) ke pesawat AS.
Kantor berita negara Iran, Irna, melaporkan ledakan di Qeshm pada Senin. IRGC tidak berkomentar atas serangan itu, tetapi mengklaim pasukannya menembak jatuh dua drone AS MQM-170 di selatan pulau dan satu drone MQ-9 di timur Selat Hormuz. Militer AS belum memberikan pernyataan.
Serangan terjadi saat mediator meningkatkan upaya mencegah perang kembali terbuka setelah pemilu paruh waktu AS. Perang antara AS dan Israel dengan Iran dimulai ketika AS dan Israel menyerang Iran pada Februari. Presiden Donald Trump menghadapi penurunan elektabilitas dan tekanan dari Partai Republik untuk mengakhiri perang.
Sebelumnya pada Senin, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa ia “tidak terburu-buru” meningkatkan serangan ke Iran. “Dengan satu atau lain cara, kami akan melakukan sesuatu, tetapi tidak terburu-buru. Kami telah melumpuhkan mereka secara finansial,” katanya kepada Axios. “Mereka tidak punya uang, tidak punya bensin, dan rakyat mereka semakin lelah.”
Dalam wawancara dengan Fox News pada malam pemilu paruh waktu, Trump juga menyebut AS “mungkin perlu menyerang Pickaxe [Mountain]”, situs bawah tanah yang dikaitkan dengan program nuklir Iran. Menurut Trump, serangan itu “bukan masalah besar” dan bisa diselesaikan “dalam satu jam”.
Sejumlah spekulasi muncul bahwa AS dapat kembali meningkatkan serangan besar ke Iran setelah pemilu paruh waktu. Ditanya wartawan pada Senin apakah hal itu akan terjadi, Trump menjawab “tidak”. Sementara itu, Associated Press mengutip dua pejabat regional yang menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendorong Trump untuk melancarkan gelombang serangan baru ke Iran setelah pemilu paruh waktu dalam panggilan telepon pada akhir pekan.
Pada Selasa, kepala perunding Iran untuk AS, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan “bola kini ada di tangan Amerika untuk mencegah perang”. “Sebagaimana Republik Islam Iran siap bertempur dengan jari di pelatuk, Iran juga telah memberikan respons yang kuat dan rasional kepada pihak Amerika,” katanya dalam pidato yang disiarkan televisi.
Belum jelas maksud pernyataan Ghalibaf. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kepada Irna pada Senin bahwa perundingan “sangat intensif” untuk mengakhiri perang sedang berlangsung dengan AS melalui mediator Qatar dan Pakistan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, menyatakan kedua pihak sedang “meninjau gagasan dan proposal yang kami sampaikan” dan Qatar tetap berharap kesepakatan tercapai. “Kedua pihak tetap berkomitmen pada proses negosiasi… Kami memfasilitasi pertukaran proposal secara waktu nyata di antara mereka,” katanya di Doha.
Minggu lalu, perunding Iran membahas dengan mediator proposal untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam dua hari setelah AS memenuhi tujuh syarat Iran. Syarat itu dilaporkan mencakup pencabutan blokade laut atas pelabuhan Iran dan pelepasan aset Iran yang dibekukan.
Selat Hormuz, jalur yang biasa dilewati sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia, praktis ditutup setelah perang dimulai akibat serangan rudal dan drone Iran ke kapal komersial serta blokade laut AS. AS dan Iran sempat mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri perang dan membuka kembali selat itu pada Juni, tetapi kesepakatan itu runtuh dalam beberapa pekan setelah serangan Iran terhadap pelayaran kembali terjadi.






