EDISI DIGITAL satirasa.id
Satirasa

Yang dekat kami baca, yang janggal kami tanya.

Bom Rusia Hantam Pusat Bantuan di Zaporizhzhia, 29 Tewas dan 48 Hilang

Sedikitnya 29 orang tewas dalam serangan bom Rusia yang menghantam pusat distribusi bantuan di Desa Komyshuvakha, wilayah Zaporizhzhia, Ukraina, pada Senin (2/11/2026). Sepuluh orang lainnya terluka dan 48 orang dilaporkan hilang, sementara tim penyelamat masih mencari korban di bawah reruntuhan.

Angka korban yang dikonfirmasi masih bergerak. BBC melaporkan sedikitnya 31 orang tewas, sedangkan Channel News Asia pada Selasa menulis 29 orang tewas. Pejabat regional menyebut 48 orang masih hilang; jumlah korban dikhawatirkan bertambah.

Pelaksana tugas gubernur Zaporizhzhia Mykhailo Semikin menyebut setidaknya sembilan bom udara seberat 3.000 kilogram menghantam desa itu. Bangunan bekas sekolah yang dipakai sebagai tempat pembagian bantuan kemanusiaan runtuh setelah terkena serangan langsung. Semikin menyebut kejadian ini salah satu serangan paling mematikan di wilayah itu sejak invasi skala penuh dimulai.

“Mereka datang untuk mencari bantuan — bukan ke fasilitas militer, bukan ke posisi garis depan, tetapi ke tempat yang seharusnya memberi mereka dukungan,” tulis Semikin di Telegram.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut serangan itu “benar-benar mengerikan”. Ia menyampaikan masih ada korban di bawah reruntuhan dan mengunggah video yang memperlihatkan kawah besar serta tim penyelamat yang bekerja di lokasi.

Menurut Zelensky, serangan pertama menghantam sekolah yang dipakai untuk keperluan kemanusiaan. Serangan kedua menyusul ke lokasi tempat warga berlindung. Ia menegaskan Rusia tidak mungkin tidak tahu warga Komyshuvakha menerima bantuan kemanusiaan di tempat itu setiap pekan.

Di antara korban tewas terdapat dua petugas penyelamat dan empat polisi, menurut Dinas Darurat Negara Ukraina (DSNS). Upaya pencarian sempat beberapa kali dihentikan karena serangan drone Rusia di sekitar lokasi.

Serangan itu terjadi setelah gencatan senjata sementara di wilayah Kherson berakhir pada Minggu (1/11/2026). Gencatan tersebut menjadi jeda pertempuran terpanjang sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina dimulai Februari 2022 dan memungkinkan misi kemanusiaan mengevakuasi warga dari Oleshky, kota di selatan yang diduduki Rusia.

Zelensky menyebut operasi evakuasi itu sempat membuka peluang deeskalasi. Namun, kata dia, serangan terhadap pusat bantuan justru mengirimkan sinyal sebaliknya. “Dengan pembunuhan semacam ini, Rusia mengirim sinyal yang berlawanan — Rusia mengandalkan pembunuhan lebih lanjut,” ujarnya.

Pada Selasa (3/11/2026), Rusia kembali melancarkan gelombang serangan ke sejumlah kota. Zelensky menyebutnya sebagai teror. Di Kharkiv, serangan menghantam rumah sakit dan melukai 73 orang; bagian kardiologi rumah sakit itu rusak. Oleg Synegubov, pejabat regional Kharkiv, menyebut 200 pasien terpaksa dievakuasi.

Di Dnipro, gubernur regional Oleksandr Ganzha mengatakan serangan Rusia menghantam infrastruktur kritis dan melukai 17 orang. Kementerian Pertahanan Rusia menyebut pihaknya melancarkan “serangan besar-besaran” terhadap fasilitas energi di sejumlah wilayah Ukraina serta infrastruktur pelabuhan di Odesa.

Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin, di pihak lain, menyebut hampir 500 drone yang mengarah ke wilayah ibu kota Rusia dihancurkan.

Serangan terbaru terjadi sepekan sebelum perundingan damai Rusia-Ukraina-Amerika Serikat dijadwalkan berlanjut di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, menyebut tim dari ketiga negara akan bertemu lagi pekan depan.

Britania Raya dan Prancis juga mengumumkan sekitar 2.800 tentara dari 10 negara Eropa akan menggelar latihan militer bulan ini sebagai dukungan untuk Ukraina.

Dengan 48 orang masih berstatus hilang, jumlah korban tewas dikhawatirkan bertambah. Tim penyelamat, kata Zelensky, masih bekerja sejauh situasi keamanan memungkinkan.

Baca juga:

Sumber

– bbc.co.uk/news/articles/cjy56dndlyz0o

– channelnewsasia.com/world/russia-ukraine-strikes-24-kille…

Share it :